“Barang selundupan ini merusak iklim usaha yang sehat, pengusaha dalam negeri yang sudah membayar pajak harus kita lindungi usahanya dengan menutup pintu bagi barang selundupan. Keselamatan masyarakat juga terancam karena tidak terjaminnya standar kualitas barang. Selain itu potensi penerimaan negara dari pajak juga hilang. Mengingat besarnya dampak dari penyelundupan ini pemerintah harus serius mengatasinya”, kata Ecky di Senayan, Kamis (7/3).
Menurut anggota Fraksi PKS tersebut saat ini adalah masa yang krusial bagi industri dalam negeri karena serbuan barang impor, terutama dari China, sedang marak akibat berkurangnya pasar ekspor di Eropa yang sedang dihantam krisis. Defisit perdagangan Indonesia dengan China pada tahun 2011 tercatat mencapai 3 miliar dolar AS, atau naik 50 persen dibanding tahun sebelumnya. Besarnya defisit ini menurut Ecky juga harus membuat pemerintah mewaspadai gelombang impor dari jalur ilegal.
“Indonesia memiliki sekitar 130 pelabuhan terbuka. Kalau di pelabuhan utama seperti Tanjung Priok saja barang impor ilegal bisa masuk, bagaimana dengan di pelabuhan “tikus” yang lebih tidak terawasi? Beberapa kali ada temuan barang selundupan di pelabuhan Tanjung Priok, ini sangat mengkhawatirkan karena bisa menjadi indikator kondisi pelabuhan lain”, kata Ecky.
Ecky meminta agar Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian dan instansi terkait lain bekerjasama mengatasi penyelundupan di pelabuhan di seluruh Indonesia.
0 komentar:
Posting Komentar