![]() |
| Habib Nabiel Al Musawa, M.Si |
Saya mempunyai seorang teman sesama anggota parlemen, sebutlah saja namanya Ahmad. Ahmad adalah sosok pribadi yang sederhana, santun, jujur dan idealis. Beliau sering curhat pada saya terkait berbagai kondisi di parlemen, isi curhat beliau ini yang saya coba buatkan sebuah epik insight -entah seberapa yang sempat saya tulis disini karena kesibukan saya- yang sekarang ada di hadapan anda, saya kisahkan kembali sebagai berikut;
Hari pertama Ahmad di DPR adalah saat ia mendengarkan pengarahan yang disampaikan oleh salah satu lembaga tinggi negara mitra DPR tersebut, sebelum keesokan harinya ia dilantik resmi menjadi anggota lembaga legislatif ini. Saat itu diantara kata-kata yang ia ingat betul dan membuatnya mengerenyitkan kening keheranan, adalah saat salah seorang nara sumber terkenal dari lembaga bergengsi itu menjelaskan soal kehadiran. Yaitu saat beliau berkata : Yah, yang penting nggak bolos 3 bulan berturut-turut lah, kalopun mau bolos lebih dari 3 bulan ya gpp, tapi tiap hampir 3 bulan ya datang lah ngisi absensi, ntar mau bolos lagi ya terserah.. yang disambut gerr oleh semua peserta.
Hal kedua yang juga membuatnya keheranan adalah saat ia pertama menginjakkan kaki di halaman gedung ini saat hari pelantikan, ia disambut dengan gerakan menghormat –persis seperti ABRI- oleh para sekuriti (pamdal) di lingkungan DPR. Kapanpun ia bertemu mereka, maka mereka pasti akan menghormat sambil berkata : Siap..! Menurut Ahmad ini terlalu berlebihan, kan kita ini bukan angkatan bersenjata yang selalu siap terima perintah untuk berperang, sehingga cara menyapa cukup yang wajar namun sopan.
Hal ketiga yang ia alami adalah berbagai previleges yang melekat pada tiap anggota dewan yang terhormat, kemana-mana acara kenegaraan duduk di deretan VIP, jumpa dengan para menteri, jendral dan semua pimpinan lembaga tinggi negara, dan lain-lain. Hal ini jika dialami oleh orang-orang yang belum matang mental dan jiwanya, belum memahami amanah berat yang akan dipikulnya di lembaga ini, maka hanya akan membuat kultus kelompok, kultus jabatan, sampai kultus individu para anggota dewan yang terhormat, yang sebenarnya hanyalah wakil rakyat, wakil masyarakat dan wakil konstituen yang memilih mereka.
Pelajaran keempat yang ia dapatkan adalah setelah dilantik, ternyata ia ditugaskan oleh fraksi di Komisi yang bermitra dengan kementrian pertanian, kehutanan, perikanan dan Bulog. Lalu iapun ditugasi menjabat di salah satu badan/alat kelengkapan dewan, lalu ternyata juga ditugasi menjabat di fraksi MPR. Wah benar-benar tugas yang banyak dan berat, sebagai anggota baru yang sedang beradaptasi sudah mendapatkan tugas sebanyak ini. Namun beberapa waktu kemudian iabaru mengetahui bahwa teman-teman se fraksi pun mengalami hal yang sama, kata mereka : Nasib jadi partai kecil ya begini, harus merangkap-rangkap jabatan.
Setelah semakin lama Ahmad baru merasakan betapa beratnya tugas-tugas rangkap jabatan tersebut, seringkali rapat komisi berbenturan dengan rapat alat kelengkapan dewan, belum lagi ternyata sebagai anggota ia juga mendapat tugas menjadi anggota panja, karena fraksinya kecil maka bisa merangkap di beberapa panja di komisi, dan ternyata di alat kelengkapan ada pula panja-panjanya. Antara rapat panja di komisi dengan rapat komisi sendiri terkadang bersamaan, demikian pula rapat panja alat kelengkapan dengan rapat alat kelengkapannya terkadang berbenturan pula.
Di fraksi MPR iajuga tugas-tugas tak pernah berhenti, Ahmad kerap harus secara bergiliran menerima tamu yang datang ke MPR, baik dari dalam maupun luar negri, menghadiri pelantikan anggota baru (pergantian antar waktu), sosialisasi UUD 1945 berikut perubahannya, menjadi juri cerdas-cermat siswa terkait Pancasila dan UUD 1945, pelatihan (training for trainers) di lembaga-lembaga departemen dan non departemen terkait Pancasila dan UUD 1945.
Setelah semakin lama ada lagi pengetahuan barunya, yaitu bahwa setiap anggota DPR dan MPR wajib membina hubungan (menjadi wakil bangsa) dengan satu negara sahabat, namanya Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) yang merupakan amanah dari Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP). Sehingga setiap negara jika akan berhubungan sesama parlemen maka alamatnya ke GKSB nya masing-masing di DPR. Dan sebagai utusan negara ke negara lain, maka tentulah harus mempelajari seluk-beluk negara mitra tersebut, menerima dan melakukan kunjungan persahabatan antar sesama parlemen, mewakili DPR jika ada kerjasama antara kedua negara, dan sebagainya.
Selain dari itu semua masih ada rakorgab (rapat bersama beberapa komisi membahas isu penting), ada paripurna (pembukaan maupun penutupan masa sidang, pengesahan UU atau pengambilan keputusan tertinggi DPR dan lain-lain), ada pansus (pembahasan UU atau isu yang melibatkan beberapa anggota lintas komisi). Sehingga ia harus memilih, apakah jika ada beberapa rapat berbenturan ia harus lari dari satu rapat ke rapat yang lain supaya bisa mengisi semua daftar hadir walaupun hadir sebagian-sebagian? Ataukah ia akan fokus sampai selesai di suatu rapat yang membahas isu terpenting dengan konsekuensi ia dikatakan bolos di absensi beberapa rapat lainnya? Atau ia harus tebal-muka menandatangani semua daftar hadir walaupun cuma menghadiri salah satu rapat saja? Tentunya ia dan sebagian teman-temannya yang idealis tidak mau memilih opsi ketiga, walaupun akibatnya kehadirannya menjadi “bermasalah” pada publik, sementara sebagian orang ada yang tega tidak hadir pada semua rapat tetapi daftar hadirnya selalu terisi 100%, laa hawla walaa quwwata illa biLLAAH..
Dengan segala kesibukannya itu, Ahmad yang asalnya merupakan pribadi yang simpatik, supel dan ramah senyum kini menjadi "superman" yang super sibuk, jam demi jam adalah lari dari satu rapat ke rapat lainnya, dari satu panja ke panja lain, dari satu pansus ke pansus, dan dari satu kunker ke kunker yang lain. Mulailah ia kehilangan kehangatannya dengan keluarga, sehingga sering karena jarang berjumpa ia mengajak keluarganya untuk ikut raker badan alat kelengkapan yang selalu diadakan saat hari-hari weekend di wisma DPR Kopo di Cisarua. Segar dan indahnya alam pegunungan hanya dinikmati oleh keluarga dan sopir serta pembantunya, sementara Ahmad berjibaku dari jam 10 pagi sampai minimal jam 23 malam (jam resmi rapat DPR RI).
Senyum manisnyapun sering menjadi hambar karena suasana panas mempertahankan argumen di hadapan mitra kerja dan perdebatan yang seringkali “menyengit” di berbagai rapat yang dihadiri. Ahmad lalu berkembang menjadi manusia yang “lain” menurut teman-temannya di luar parlemen, ia jarang bicara, menjadi agak tertutup, sering menguap saat ngobrol karena kurang tidur, badannyapun menjadi “tambun” karena makanan yang dihidangkan “amat bergizi”, sedangkan kesempatan berolahraga hampir-hampir tak ada, karena waktu istirahat benar-benar digunakan untuk “istirahat”, sehingga istrinyapun tak tahan tidur bersamanya, karena suara “peluit” keras yang terdengar selama ia beristirahat... Masih minat mendengar epik Ahmad Sang Politisi..? Kalau sempat nanti saya akan ingat-ingat lagi curhatnya teman-teman yaa..

0 komentar:
Posting Komentar