Fase dakwah dan fase Negara masing-masing memiliki karakteristik dan
fikih tersendiri. Dengan izin Allah Ta’ala, kita telah menyaksikan satu
gerakan dakwah berhasil sampai ke istana negara. Namun, dakwah adalah
tugas para pengikut Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sampai akhir
zaman, karenanya ia tidak berhenti begitu aktivis berhasil memegang
tampuk pemerintahan. Tiba saatnya, dakwah yang dulunya berjalan
sendiri, kini berdampingan dengan otoritas dan kekuatan untuk
berpartisipasi dalam rekonstruksi dan pembangunan bangsa.
Proses transisi dari dakwah kepada negara terjadi begitu cepat, bak
perahu yang melaju kencang dihembus angin. Laju yang terlalu cepat
terkadang menghilangkan koherensi dan keseimbangan kita. Abdurrahman Ibn
Auf radhiyallahu ‘anhu mengilustrasikan kondisi ini dalam ungkapannya:
“Kami diuji dengan kesusahan tapi kami dapat bersabar, kemudian kami
diuji dengan kesenangan, namun kami tidak dapat bersabar.”(1)
Selama berdakwah, biasanya ikatan batin seorang hamba kepada Rabb-nya
sangatlah kuat. Kesadarannya cukup tinggi, dan selalu mengembalikan
semua urusan kepada-Nya. Para da’i mempunyai aktivitas rutin du’at yang
mulia, seperti belajar dan mengajar, memberi nasehat dan bimbingan
kepada manusia. Berdiam diri di masjid, seraya memaksimalkan ibadah.
Hatinya lembut, dipenuhi rasa ukhuwah, dan cinta karena Allah.
Perjalanan dakwah semakin indah, manakala seorang hamba ditimpa
musibah, yang membuatnya lebih tunduk dan merendah diri di hadapan
Allah. Doa dari hati yang pedih dan jiwa penuh luka senantiasa terhatur
ke haribaan Sang Pencipta. Sepertiga malam terakhir adalah momen
terindah, yang sepi lagi syahdu, menambah rasa tenang dan dekat kepada
Allah Yang Maha Pengasih. Hingga luka dan pedih hati yang sudah mencapai
puncaknya, terobati dengan munajat kepada-Nya. Seperti halnya yang
terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf alaihis salam, saat mereka
meminta bantuan dengan penuh harap:
{مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُّزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا} [يوسف: ٨٨]
“Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami ditimpa kesengsaraan, dan kami
datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah
sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami. “(QS. Yusuf: 88)
Inilah puncak ketergantungan kepada Allah. Maka Allah menurunkan
penawar bagi mereka dengan hembusan rahmat-Nya dan keluasan
maghfirah-Nya, sebab Allah Maha mengetahui apa yang menimpa mereka:
{وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ} [البروج: 9]
“ Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al Buruj: 9)
Maka, Dia hapus segala luka dan duka mereka:
{فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ} [الفتح: 18]
“Maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka.” (QS. Al Fath: 18)
Allahu akbar. Alangkah indahnya saat-saat itu, momen pembersihan
hati dari segala keburukan dan kesusahan duniawi. Memutuskan semua
hubungan kepada sesama makhluk, menuju ikatan erat kepada Allah yang
Maha Esa dan Perkasa. Dan sungguh jauh perbedaan antara keduanya:
{مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا} [فاطر: ٢]
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka
tidak ada seorangpun yang dapat menahannya.” (QS. Faathir: 2)
Anda dapat bayangkan proses transisi dahsyat tersebut, yang membawa
seorang hamba ke suasana baru dengan nuansa berbeda. Hanya manusia
berjiwa besar dan mulialah yang mampu bertahan di hadapannya. Yaitu
mereka yang jiwanya dekat dan terikat dengan Dzat yang ada di langit,
sementara jasadnya masih di dunia. Maka, ketika mereka sampai pada
tampuk kekuasaan, jiwanya tetap kosisten dengan kondisi saat berdakwah
yang pernah dihiasi berbagai musibah dan cobaan.
Lihatlah Umar Ibn Khattab radhiyallahu ‘anhu, saat ia berbicara
menghardik dirinya: “Umar Ibn Khattab? Seorang Amirul mukminin? Demi
Allah, kau harus taat kepada Allah, jika tidak, Allah pasti mengazabmu.
Duhai, andai saja ibu Umar tidak melahirkan Umar.”
Beliau juga berkata: “Sungguh aku berharap keluar dari dunia dengan bersih, tanpa salah dan dosa.” (2)
Ketika ajal hampir menjemputnya, ia berkata kepada Abdullah putranya:
“Letakkanlah wajahku di atas tanah…”, kemudian dia berkata: “Celakalah
aku, jika Allah tidak mengampuniku.” (3)
Ketika Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib berada di mihrabnya, dengan
penuh gelisah sambil memegangi jenggotnya ia berkata: “Wahai dunia,
godalah orang lain, apakah kau tidak puas menggangguku? Ketahuilah, aku
telah ceraikan engkau tiga kali, dan takkan pernah rujuk lagi. Usiamu
pendek, dan ancamanmu sangat hina.” (4)
Maslamah Ibn Abdul Malik bercerita, aku menemui Umar Ibn Abdul Aziz
saat beliau sakit. Aku melihat pakaiannya kotor dan usang, maka aku
berkata kepada Fathimah istrinya: “mengapa kalian tidak mencuci pakaian
amirul mukminin?” Fathimah menjawab, “demi Allah, dia tidak punya
pakaian selainnya.” Kemudian beliau menangis, dan Fathimah ikut
menangis, lalu seluruh isi rumah ikut menangis. Setelah tangisnya
berhenti, Fathimah bertanya, “apa gerangan yang membuat Anda menangis?”
Maka beliau menjawab, “aku mengingat saat manusia kelak berkumpul di
hadapan Allah :
{فَرِيقٌ فِي الْـجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ} [الشورى: ٧]
“Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka”. (QS. Asy Syura’: 7)
Dan aku tidak tahu, termasuk golongan yang manakah aku?” (5)
Inilah alumni madrasah nabawiyah, mereka dididik dan dibentuk di
dalamnya. Madrasah yang mengajarkan ketergantungan pada akhirat dan
menjauhi dunia. Mereka menempatkan dunia pada posisi sebenarnya, hingga
saat sampai pada kekuasaan, jiwanya tetap bersih dan konsisten.
Umar telah menceritakan kepada kita, bagaimana Rasulullah mendidiknya
agar jangan tergiur dengan kenikmatan dan perhiasan dunia. Beliau
bercerita:
Suatu hari aku bertamu ke rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, dan beliau sedang berbaring di atas tikar. Aku kemudian duduk,
Rasulullah memperbaiki sarung beliau, dan hanya itu yang beliau
kenakan. Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, tanpa sengaja
aku melihat laci milik beliau, di dalamnya hanya terdapat segenggam
gandum, dan ada sepotong kulit yang belum disamak tergantung di sudut
rumah. Maka aku pun menangis, hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang
membuatmu menangis wahai Ibn Khattab?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah,
bagaimana aku tidak menangis, sedangkan aku melihat bekas tikar di
punggungmu, dan kendi makananmu kosong. Sungguh Kisra (raja Persia.) dan
Kaisar (raja Romawi) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah
utusan Allah.” Beliau menjawab, “Wahai Ibn Khattab, tidakkah engkau
ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (6)
Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda: “Apakah engkau ditimpa
keraguan wahai Umar? Mereka adalah kaum yang seluruh kesenangannya
disegerakan di dunia.” Dan Rasulullah wafat, sementara baju besinya
tergadai pada seorang Yahudi.
Semua itu adalah isyarat bagi para da’i, manakala mereka memegang
wewenang mengatur negara. Seakan berpesan: Ketahuilah, kalian tidak akan
berhasil hingga kalian tetap mengingat Allah dan konsisten di atas
syari’at-Nya dalam setiap aktivitas. Bergantunglah dan bertakwalah
kepada Allah dalam diri dan semua urusanmu. Hendaklah hatimu hidup
untuk akhirat, meski jasadmu hidup di dunia, dan janganlah kalian
lupakan ayat ini:
{عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الأَرْضِ فَيَنظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ} [الأعراف: 1٢9]
“Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu
khafilah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.”
(QS. Al A’raf:129)
Ya, niscaya Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu!
__________________________________
(1). Mushannaf Abdur Razzaq, no. 20997.
(2). HR. Bukhari, no. 7218.
(3). Ibn Syaibah, Tarikh Al Madinah, juz III, h.919.
(4). Al Riyadh Al Nadhirah, juz I, h. 276.
(5). Al Bidayah wa Al Nihayah, juz IX, h. 240.
(6). HR. Bukhari no. 4913, dan Muslim no. 3676.
*http://www.fimadani.com/dari-dakwah-agama-hingga-memimpin-negara/

0 komentar:
Posting Komentar